Kamis, 31 Januari 2019

Balagoh dan mantik


Kitab lLmu Mantiq Dan Balaghoh

      BALAGHOH BAB TASBIH

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Al-qur’an dan Al-hadis merupakan pedoman tertinggi umat islam. Dengan
pedoman inilah umat islam akan melaksanakan syariah, akidah dan akhlak
secara benar. Maka dari itu mempelajari al-qur’an dan al-hadis adalah
suatu yang wajib bagi setiap muslim agar dapat memahami ajaran islam
yang hakiki. Karena al-qur’an dan al-hadis itu menggunakan bahasa arab,
maka yang pertama harus memahami kaidah-kaidah sastra bahasa arab.
Kaidah-kaidah tersebut diantaranya ilmu nahwu, shorof, balaghoh, dan mantiq.
Ilmu nahwu dibebut dengan abul ilmu, karena dengan nahwu akan diketahui
perubahan I’rob dan tarkib sebuah kalimah. Sedangkan shorof disebut
dengan ummul ilmi, karena dengannya akan diketahui struktur
bentuk-bentuk kalimah. Sedangkan dengan ilmu balaghoh merupakan disiplin
ilmu untuk mengetahui ruhnya nahwu sebagaimana dijelaskan dalam bait :
لِأَنَّهُ كَالرُّوْحِ لِلْأِعْرَابِ # وَهْوَ لِعِلْمِ النَّحْوِ كَاللُّبَابِ
“Karena sesungguhnya (ilmu Balaghoh) itu ibarat seperti ruh perubahan
(ilmu nahwu), dan seperti inti sari dari ilmu nahwu”
Salah satu hal yang terpenting dalam bab ilmu balaghoh adalah bab
tasybih. Karena tidak sedikit dalam al-qur’an dan al-hadis maupun qoul
arab yang menggunakan tasybih. Oleh katena itu dalam makalah ini, kami
akan mengupas bab balaghoh dengan bab tasybih.
Adapun yang menjadi sumber utama dari pembahasan ini adalah bait
“Jauharul Maknun” yang dikarang oleh Syaikh Abdurrohman Al-Ahkdhori.
Khusus pada bab tasybih sebanyak 7 bait. Yang diperkaya tambahan dari
berbagai kitab lainnya, seperti kitab  حلية اللب المصون بشرح الجوهر
المكنون  oleh Syaikh Ahmad Damanhuri Asy-Syammy, kitab “Husnus Shiyaghoh”

B.  Rumusan Masalah
Secara garis besar, pembahasanini ingin mengetahui bagaimanakah tasbih
menurut ulama’ balaghoh.Sebagaimana dipahami bahwa Ilmu Balaghoh adalah
intisari dari ilmu nahwu dan shorof, karena ilmu ini untuk menggali
rahasia dan kandungan sebuah makna.
Apabila dirumuskan dalam pertanyaan adalah bagaimanakah tasbih itu
ditinjau dari aspek ilmu balaghoh ? Masalah tersebut kemudian akan
memunculkan sub-sub masalah sebagai berikut :
1.    Bagaimanakah tasbih menurut ulama’ balaghoh ?
2.    Apa saja rukun tasbih itu ?
3.    Apa saja yang berkaitan dengan Musyabah dan musyabah bih?
4.    Bagaimanakah Macam-macam wajah syabah dan pembagian wajah syabah?
                                                                                                                       

C.  Tujuan Pembahasan
Sesuai dengan topik pembahsanini, maka secara umum, pembahasanini
bertujuan untuk mendeskripsikantasbih menurut ulama’ balaghoh. Tujuan
umum tersebut dapat dirinci menjadi beberapa tujuan khusus sebagai berikut :
1.    Menjelasakan bagaimana pengertian tasbih dalam ilmu balaghoh.
2.    Menejlaskan Apa saja rukun tasbih
3.    mendeskrisikan yang berkaitan dengan Musyabah dan musyabah bih
4.    mengetahui Macam-macam wajah syabah dan pembagian wajah syabah?


BAB II
KONSEPSI TASBIH DALAM ILMU BALAGHOH

A.  Pengertian Tasbih
            Tasbih (تَشْبِيْه) secara lughot adalah berasal dari tasrifan
شَبَّه- يُشَبِّهَ – تَشْبِيْه  yang berarti menyerupakan, menyamakan dan
membandingkan.[1]

kitab حلية اللب المصون بشرح الجوهر المكنون   disebut dengan  التمثيل
  yang  artinya mencontohkan, dan menurut  Syaikh Ulumuddin Muhammad
Yasin Ibn Isa Al-Fadanyditerangkan   جَعْلُ الشَّيْءِ شَبِّيْهًا بِأَخَرyaitu
menjadikan sesuatu menyerupai dengan yang lain.[2]

Sedangkan menurut istilah ialah sebagaimana disebutkan dalam bait :
تَشْبِيْهُنَا دِلَالَةٌ عَلَى اشْتِرَاك # اَمْرَيْنِ فِيْ مَعْنًى بِأَلَةٍ اَتَاكْ[3]

“Arti tasbih menurut ahli bayan, ialah lafadz yang menunjukkan pada
berserikatnya dua perkara (yaitu musabbah dan musabbah bih) dalam suatu
makna (wajah syabbah) dengan alat yang datang kepadamu”
Menurut  Syaikh Ahmad Damanhuri Asy-Syammy :
الدلالة على مشاركة أمر لأمر في معنى بألة مخصوصة كالكاف مالفوظة أو
مقدرة[4]

“Tasybih adalah dalalah  petunjuk atas perserikatan perkara untuk
perkara yang lain dalam ma’na dengan alat yang khusus seperti kaf yang
dilafadhkan atau di kira-kirakan”
Sedangkan menurut syaikh ulumuddin Muhammad yasin ibn isa al-fadany :
إِلْحَاقُ أَمْرٍبِأَمْرٍ فِي وَصْفٍ بِأَدَةٍ لِغَرْضٍ[5]

“Menghubungkan suatu perkara dengan perkara lain didalam sifat karena
ada tujuan”
Dari beberapa pengertiandiatas, dapat diartikan bahwa tasybih adalah
lafadzyang menunjukkan pada suatu bentuk perserikatanpersamaansuatu
perkara bagisuatu perkara yang lain dalam suatu makna  pengertian
dengan menggunakan alat khusus ditentukan, baik yang dilafalkan seperti
kaf atau yang dikira-kirakan.
Contoh :
زَيْدٌ كَاْلأَسَدِ  = Zaid Seperti Harimau – dan  adakalanyaزَيْدٌأَسَدٌ  - dengan
membuang alat tasybihnya. Lafadzزَيْدٌadalah perkara yang bermakna nama
manusia diserupakan dengan perkara yang lain berupa  أَسَدberarti harimau
nama hewan yang mempunyai keberanian. Ini artinyabahwa zaid itu sama
dengan harimau,sama didalam keberaniannya.
A.  Rukun Tasbih

1.      Pengertian rukun
Dalam kitab حُسْنُالصِّيَاغَةْdijelaskan  اْلمُرَادُ بِالرُّكْنِ مَا يَتَوَقَّفُ عَلَيْهِ الشَّيْء[1]

   (arti rukun adalah perkara yang perkara lain terhenti  atasnya). Jadi
rukun itu merupakan hakikinya bagian dari sesuatu tersebut. Jika
dicontohkan sebuah rumah, maka rukun rumah adalah pondasi, temboktiyang
dan atap, karena ketiga perkara ini merupakan sesuatu yang terhenti,
hakikinya rumah.
2.      Rukun Tasbih.
Rukun tasbih ada empat seperti yang disebutkan dalam bait :
اَرْكَانُهُ اَرْبَعَةٌ وَجْهٌ اَدَاة # وَطَرَفَاهُ فَاتَّبِعْ سُبْلَ النَّجَاة[2]

“Rukun tasbih itu ada empat. Yaitu وَجْه(wajah syabah),
 اَدَاة(adat), طَرَفَاهُ(dua pokoknya yaitu musabbah dan musabbah
bih), maka ikutilah jalan keselamatan”
Rukun tasbih ada empat :
a.       Musyabbah (مُشَبَّه) yaitu sesuatu yang diserupai
b.      Musyabbah Bih(مُشَبَّه به) yaitu sesuatu yang diserupakan
c.       Wajah Syabah  (وَجْهٌشِبْهِ) yaitu suatu makna atau sifat yang
mengumpulkan antara musyabah dan musyabah bih
d.      Adat (اَدَاة)  yaitu alat yang digunakan untuk tasybih, seperti
huruf kaf
Contoh :
زَيْدٌ كَاْلأَسَدِ فِي الشَّجَاعَةِ
زَيْدٌ   = musyabbah (zaid = nama orang)
 ك   = adat  alat (seperti)
اْلأَسَد= musyabbah bih (harimau = hewan)
فِي الشَّجَاعَةِ= wajah syabah (dalam keberaniannya)

A.  Tentang Musayabbah dan Musyabbah Bih
Diterangakan dalam bait :
فَصْلٌ وَحِسِّيَانِ مِنْهُ الطَّرَفَانْ # اَيْضًا وَاَقْلِيَّانِ اَوْ مُخْتَلِفَانْ[1]

“Pasal ini, menerangkan tentang kedua ujung tasybih (musyabah dan
musyabah bih) itu adakalanya bersifat hissi (dapat dirasa) kedua-duanya
atau bersifat aqli kedua-duanya dan atau kedua-duanya berbeda”
Yang dimaksud dengan hissi, ialah sesuatu yang dapat dirasa atau
diraba-raba dengan panca indera, seperti الرجال  (orang laki-laki),
  السَّمَكُ(ikan).
Yang dimaksud dengan aqli ialah suatu yang tidak dapat dirabaatau dirasa
oleh panca indera, seperti  الْعِلْمُ(ilmu), الحَيَاةُ  (hidup). Dan
sebagainya. Termasuk dari kategori aqli adalah khayal dan berangan-angan.
Jadi, musyabah dan musyabah bih itu boleh berupa hissi keduanya, aqli
keduanya atau berbeda (hissi dengan aqli atau aqli dengan hissi).
1.    Keduanya Bersifat Hissi
Contoh : خَذُّكَ كَالْلوَرْدَةِ   pipimu seperti bunga mawar
2.    Keduanya bersifat aqli
Contoh : العِلْمُ كَالْحَيَاةِ   ilmu seperti kehidupan
3.    Keduanya berbeda
B.  Tentang Wajah Syabah
Diterangkan dalam bait :
وَالْوَجَهُ مَا يَشْتَرِكَانِ فِيْهِ # وَدَاخِلاً وَخَارِجًا تُلْفِيْهِ[2]

“Wajah syabah adalah suatu pemahaman yang musytarak di dalamnya,
kedua-duanya itu masuk dan keluar dalam hakikat musaybah dan musyabah
bih”
وَجْهُ التَّشْبِيْهِ هُوَ الْمَعْنَى الَّذِي قُصِدَ  اشْتِرَاكُ الطَّرَفَيْنِ فِيْهِ[3]

“Wajahsyabah adalah makna yang dimaksud persekutuan dalam dua ujung
(musyabah dan musyabah bih)”
Inti dari wajah syabah adalah sifat atau makna yang disengaja untuk
mesekutukan musyabah dan musyabah bih pada sifat tersebut.
Adapun pembagian wajah syabah ditinjau dari hakikat musyabah dan
musyabah bih dibagi menjadi dua, yaitu :
1.    Wajah syabah dakhili
Yaitu wajah syabah yang masuk pada hakikat musyabah dan musyabah bih.
Maksud dari hakikat adalah sama jenis. Seperti :
الثَّوْبُكَهَذَا   هَذَا       baju ini seperti ini (maksudnya menyerupakan baju
dengan baju lainnya, sebab sama-sama dari katun dan sebagainya).
Dinamakan demikian karena masuk pada hakikat. Katun itu masuk pada
hakikat musyabah dan musyabah bih, bukan sifat yang menetap keduanya.
2.    Wajah syabah khoriji
Adapun wajah syabah khoriji, terkandung dalam bait :
وَخَارِجٌ وَصْفٌ حَقِيْقِيٌ جَلَا # بِحِسٍّ اَوْ عَقْلٍ وَنِسْبِيٍّ تَلَا[4]

“Wajah syabah khariji itu terbagi pada dua macam, ialah sifat hakiki
yakni yang jelas dengan panca indera dan aqli (yang sebaliknya) dan
kedua sifat idhafi atau nisbi yang mengikuti kharaji”
Wajah syabah khoriji adalah wajah syabah yang keluar dari hakikat
musyabah dan musyabah bih, tetapi merupakan sifat yang melekat pada
keduanya.
Contoh :
 زَيْدٌ كَاْلأَسَدِzaid itu seperti harimau keberaniannya. Keberanian itu bukan
termasuk hakikat zaid atau harimau, melainkan diluar itu, sebab
keberanian itu adalah sifat, bukan zat (jenis) dan merupakan sifat yang
melekat pada keduanya.
Dari bait diatas juga dapat diketahui bahwa wajah syabah khoriji itu
dibagi menjadi dua, yaitu :
1.    Sifat khoriji hakiki itu ada dua macam, yaitu:
a.    Khoriji hakiki  hissi yaitu setiap sifat yang dapat dirasa atau
diraba dengan panca indera, seperti rupa, ukuran, gerak, suara,
penciuman, halus atau kasar, dingin atau panas, riangn atau berat dan
sebaginya.
b.    Khoriji hakiki aqli yaitu setiap sifat yang dapat dibuktikan
dengan akal, seperti kecerdasan, ilmu, marah, sabar, murah hati, kikir,
berani, penakut dan semua ghozirah, bakat dan tabiat.
2.    Khoriji nisbi atau idhafi yaitu pengertian yang berkelindan antara
dua perkara (musyabah dan musyabah bih), seperti meniadakan penghalang
(hijab) dalam penyerupaan hujjah dengan matahari dalam persamaan terangnya.
C.  Pembagian Wajah Syabah
Adapun Pembagian Wajah Syabah adalah sebagai berikut :
                                    وَوَاحِدًا يَكُوْنُ اَوْمُؤَلَّفَا # اَوْمُتَعَدِّدًا وَكُلٌّ
عُرِفَا[5]

بِحِسٍّ اَوْ عَقْلٍ وَتَشْبِيْهٌ نُمِىْ # فِيْ الضِّدِ لِلتَّمْلِيْحِ وَالتَّهَكُّمِ[6]

“Wajah syabah (ditinjau dari sisi lain) itu dibagi menjadi tiga ;
yaitu, wajah syabah mufrod, wajah syabah murokab dan wajah syabah
muta’adid. Dan masing-masing tiga wajah tersebut dibagi menjadi dua
yaitu hissi dan aqli. Sedang tasybih yang wajah syabahnya menggunakan
kebalikannya itu bertujuan untuk mempermanis kalam atau untuk menertawakan”
Berpijak dalam pemahaman bait diatas, dapat disimpulkan bahwa wajah
syabah itu terbagi menjadi tiga macam. Yaitu :
1.    Wajah syabah mufrod
2.    Wajah syabah murokab
3.    Wajah syabah muta’addid
Dari tiga macam tersebut, terbagi menjadi dua macam, yaitu yang bersifat
hissi dan yang bersifat aqli. Jadi jumlah semunya adalah enam macam
ditambah lagi satu macam wajah syabah yang banyak yaitu sebagai hissi
dan aqli. Jumlah semuanya ada tujuh macam.
1.    Wajah syabah Mufrod
Yaitu wajah syabah yang oleh urf dianggap mufrod (tidak tersusun)
a.    Hissi, contoh  هَذَه الصُّوْرَةُ مِثْلُ هَذِهِ فِي الصَّفْرَةِ    gambar ini seperti
gambar yang ini di dalam kuningnya. 
b.    Aqli, contoh العِلــــــــــْمُ كَالنُّوْرِ فِي الْهِدَايَةِ    (ilmu seperti
cahaya dalam sebagai petunjuk)
2.    Wajah syabah murakab.
Yaitu wajah syabah yang tersusun dari beberapa perkara
a.    Wajah syabah murakab  Hissi
Contoh :
وَقَدْ لَاحَ بِلْفَجْرِ الثُّرَيَّا كَمَا تَرَى # كَعُنْقُوْدِ مُلَاحِيَةِ حِيْنَ نَوَّرَا
“Bintang kejora yang tampak diwaktu fajar, kamu saksikan seperti
laksana dompolan anggur putih dalam bentuknya, yang panjang bijinya
tatkala mengembang”
b.    Wajah syabah murakab  Aqli
Contoh :
مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُ التَّوْرَةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًا
“Perumpamaan orang yang menanggung kitab taurot kemudian dia tidak
mengamalkannya seperti keledai yang membawa buku” (QS: Al-Jumuah 5)
Wajah syabah yang demikian tidaklah tampak oleh mata, akan tetapi akan
tampak oleh angan-angan dari akal
3.    Wajah syabah Muta’adid (berbilang)
a.    Wajah syabah muta’adid  Hissi
Wajah syabah muta’adid yang bisa ditemukan oleh panca indera.
هَذَا الطَّعَامُ كَهَذَا فِي الــــــــــــــــون والطعم والراءحة  makanan ini
seperti yang ini didalam warna, rasa dan bau.
b.    Wajah syabah muta’adid  Aqli
Wajah syabah muta’adid yang tidak bisa ditemukan oleh panca indera, tapi
bisa ditemukan oleh akal.
هـــذا الرجل مثل هذا في العلم والحلم والحياء   lelaki ini seperti lelaki
yang ini didalam ilmu, kebijaksanaan dan sifat pemalunya.
c.    Wajah syabah muta’adid Mukhtalifi (hissi dan aqli).
Berbeda menurut penglihatannya dan kemuliyaannya, seperti :
هذا الرجل كالشـــــمس في حسن الطلعة وكمال الشرف
“Lelaki ini seperti matahari didalam ketampanan wajahnya dan
kesempurnan kemuliyaannya”
Menyerupakan laki-laki dengan matahari ditinjau dari sisi kemanfaatannya
kepada yang lainnya. Maksudnya ialah bahwa manfaat matahari tampak
(hissi), sedang manfaat laki-laki yang berilmu tampak jelas dalam akal
sehat.

Wajah syabah itu adakalanya bertolak belakang antara musyabah dan
musyabah bihnya disebut dengan wajah syabah tadhodl. Tujuan dari
menggunakan wajah syabah berlawanan (tadhodh) adalah untuk :
1.    التَّهَكُّمْ    (Memperolok-olok  menghina  menertawakan Musyabah)
2.    التَّمْلِيْح  (Memperindah mempermanis Perkataan)
Seperti menyerupakan laki-laki yang kikir dengan hatim (seorang pemurah)
هذا الـــــرجل كحاتيم     laki-laki yang kikir ini seperti hatim

BAB IV
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Sebagai intisari pembahsan ini adalah kesimpulan. Adapun kesimpulannya
adalah sebagai berikut :
1.      Tasybih adalah menunjukakan terhadap bersekutu (kesamaan) suatu
perkara (musyabah) dengan perkara lain (musyabah bih), didalam suatu
makna (wajah syabah) dengan menggunakan alat yang tertentu baik
diucapkan atau dikira-kirakan.
2.      Rukun tasybih ada emapat yaitu musyabah, musyabah bih, alat dan
wajah syabah.
3.      Adapun keadaan musyabah dan musyabah bih itu ada tiga, yaitu ;
keduanya bersifat hissi (dapat diindera), keduanya bersifat aqli (tidak
dapat diindera) dan keduanya berbeda (hissi dan aqli)
4.      Wajah syabah ditunjau dari hakikat musyabah dan musyabah bih itu
ada dua, yaitu ; wajah syabah dhakhili dan wajah syabah khoriji
5.      Wajah syabah ditinjau dari sisi tersusun dan tidaknya dibagi
menjadi tiga, yaitu ; mufrod, murokab dan muta’adid. Yang masing-masing
dibagi menjadi dua hissi dan aqli.
6.      Adakalanya wajah syabah itu berupa sesuatu yang berlawanan. Hal
ini bertujuan “tahakkum” (menghina) dan “tamlih” (memperindah kalam)

B.  Saran
Alhamdulillah, syukur kami panjatkan kehadira Alloh yang maha luhur.
Juka kami sampaikan terimaksih kepada semua pihak yang ikut mendukung,
membantu atas selesainya tugas makalah ini. Dan kami yakin masih banyak
yang kurang. Oleh karena itu kritik dan saran yang mebangun sangat kamu
harapkan. Dam akhirnya kamu mohon maaf atas segal kesalahan. Dan semoga
memberiakn kemanfaatqn dan kebarokahan. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  kasalametannana turuna ka atas panutan urang Kangjeng Nabi Muhammad Shalallohu ‘alaihi wassalam, jeung ka para sahabatna rawuh kulawargana...