Kamis, 31 Januari 2019

Ilmu ma, ani bayan


ARTI ILMU MA‘ĀNĪ, BAYĀN DAN BADĪ



1. Ilmu Ma‘ānī

وَ حَافِظٌ تَأْدِيَةُ الْمَعَانِيْ    عَنْ خَطَاءِ يُعْرِفُ بِالْمَعَانِيْ

Artinya:

“Ilmu yang menjaga jangan sampai mutakallim itu salah di dalam
menerangkan makna yang di luar makna yang dikehendaki, itu disebut Ilmu
Ma‘ānī”.

Jadi, Ilmu Ma‘ānī adalah ilmu untuk menjaga kesalahan berbicara.

وَ مَا مِنَ التَّعْقِيْدِ فِي الْمَعْنَى يَقِي    لَهُ الْبَيَانُ عِنْدَهُمْ قَدِ انْتَفِي

Artinya:

“Ilmu untuk menjaga kalām (ucapan) dari ta‘qīd yang berhubungan dengan
makna (ta‘qīd Ma‘nāwī), itulah yang disebut Ilmu Bayān”.

Jadi, Ilmu Bayān adalah ilmu untuk menjaga pembicaraan yang tidak
mengarah kepada tujuannya.

وَ مَا بِهِ وُجُوْهُ تَحْسِيْنِ الْكَلَامْ    تُعْرَفُ يُدْعٰى بِالْبَدِيْعِ وَ السَّلَامْ

Artinya:

“Ilmu untuk mengetahui cara-cara memperbaiki kalam atau ucapan, itulah
yang disebut Ilmu Badī‘”.

Jadi, Ilmu Badī‘ adalah ilmu yang untuk menghias susunan kalimat.
Fann pertama Ilmu Ma‘ānī:

الْفَنُّ الْأَوَّلُ: عِلْمُ الْمَعَانِيْ

عِلْمٌ بِهِ لِمُقْتَضَى الْحَالِ يُرَى    لَفْظًا مُطَابِقًا وَ فِيْهِ ذُكِرَا

Artinya:

“Yaitu ilmu yang dengan ilmu itu dapat diketahui sesuatu lafazh
muthābaqah (sesuai) dengang muqtadh-al-ḥālnya (keadaan situasi dan
kondisinya) dan di dalam ilmu itu diterangkan mengenai: ”

إِسْنَادٌ مُسْنَدٌ إِلَيْهِ مُسْنَدُ    وَ مُتَعَلِّقَاتُ فِعْلٍ نُوْرَدُ
قَصْرٌ وَ إِنْشَاءٌ وَ فَصْلٌ وَصْلٌ أَوْ    إِيْجَازٌ إِطْنَابٌ مُسَاوَاةٌ رَأَوْ

Artinya:

“1. Isnād, 2. Musnad ilaih, 3. Musnad, 4. Muta‘alliqāt-ul-fi‘li (lafazh
yang dita‘alluq dengan fi‘il), 5. Qashar, 6. Insyā’, 7. Fashl dan
Washal, 8. Ījāz, ithnāb dan Musāwāh. Para ulama telah melihat (akan
semuanya itu).”

الْبَابُ الْأَوَّلُ: أَحْوَالُ الْإِسْنَادِ الْخَبَرِيِّ

Bab pertama tentang keadaan isnād khabarī:

1. Isnād, ialah:

ضَمُّ كَلِمَةٍ أَوْ مَا يَجْرِيْ مَجْرَاهَا إِلَى أُخْرَى بِحَيْثُ يُفِيْدُ الْحُكْمِ بِأَنَّ مَفْهُوْمَ إِحْدَاهُمَا
ثَابِتٌ لِمَفْهُوْمِ الْأُخْرَى أَوْ مَنْفِيٌّ عَنْهَا.

Artinya:

“Menghimpun kalimat atau lafaz yang sejalan dengan kalimat itu (jumlah
khabariyah atau mashdariyah) dengan kalimat lain sekira memberi faedah
akan adanya hukum dengan cara, bahwa mafhum salah satu dari kedua
kalimat yang dihimpun itu, tetap bagi maksud kalimat lainnya, seperti
tetap hukum benarnya Zaid pada lafazh (زَيْدٌ كَاذِبٌكَذَبَ زَيْدٌ) atau tiadanya
hukum itu dari padanya, seperti tiada hukum benarnya Zaid pada lafazh:
(زَيْدٌ لَمْ يَكْذِبْلَمْ يَكْذِبْ زَيْدٌ).

2. Khabarī, merupakan nisbat dari lafazh khabar, ialah:

(مَا احْتَمَلَ الصِّدْقَ وَ الْكَذِبَ) Yaitu: Perkataan yang mungkin benar dan mungkin
salah.

ARTI ILMU MA‘ĀNĪ, BAYĀN DAN BADĪ‘

1. Ilmu Ma‘ānī

وَ حَافِظٌ تَأْدِيَةُ الْمَعَانِيْ    عَنْ خَطَاءِ يُعْرِفُ بِالْمَعَانِيْ

Artinya:

“Ilmu yang menjaga jangan sampai mutakallim itu salah di dalam
menerangkan makna yang di luar makna yang dikehendaki, itu disebut Ilmu
Ma‘ānī”.

Jadi, Ilmu Ma‘ānī adalah ilmu untuk menjaga kesalahan berbicara.

وَ مَا مِنَ التَّعْقِيْدِ فِي الْمَعْنَى يَقِي    لَهُ الْبَيَانُ عِنْدَهُمْ قَدِ انْتَفِي

Artinya:

“Ilmu untuk menjaga kalām (ucapan) dari ta‘qīd yang berhubungan dengan
makna (ta‘qīd Ma‘nāwī), itulah yang disebut Ilmu Bayān”.

Jadi, Ilmu Bayān adalah ilmu untuk menjaga pembicaraan yang tidak
mengarah kepada tujuannya.

وَ مَا بِهِ وُجُوْهُ تَحْسِيْنِ الْكَلَامْ    تُعْرَفُ يُدْعٰى بِالْبَدِيْعِ وَ السَّلَامْ

Artinya:

“Ilmu untuk mengetahui cara-cara memperbaiki kalam atau ucapan, itulah
yang disebut Ilmu Badī‘”.

Jadi, Ilmu Badī‘ adalah ilmu yang untuk menghias susunan kalimat.



Fann pertama Ilmu Ma‘ānī:

الْفَنُّ الْأَوَّلُ: عِلْمُ الْمَعَانِيْ

عِلْمٌ بِهِ لِمُقْتَضَى الْحَالِ يُرَى    لَفْظًا مُطَابِقًا وَ فِيْهِ ذُكِرَا

Artinya:

“Yaitu ilmu yang dengan ilmu itu dapat diketahui sesuatu lafazh
muthābaqah (sesuai) dengang muqtadh-al-ḥālnya (keadaan situasi dan
kondisinya) dan di dalam ilmu itu diterangkan mengenai: ”

إِسْنَادٌ مُسْنَدٌ إِلَيْهِ مُسْنَدُ    وَ مُتَعَلِّقَاتُ فِعْلٍ نُوْرَدُ
قَصْرٌ وَ إِنْشَاءٌ وَ فَصْلٌ وَصْلٌ أَوْ    إِيْجَازٌ إِطْنَابٌ مُسَاوَاةٌ رَأَوْ

Artinya:

“1. Isnād, 2. Musnad ilaih, 3. Musnad, 4. Muta‘alliqāt-ul-fi‘li (lafazh
yang dita‘alluq dengan fi‘il), 5. Qashar, 6. Insyā’, 7. Fashl dan
Washal, 8. Ījāz, ithnāb dan Musāwāh. Para ulama telah melihat (akan
semuanya itu).”



الْبَابُ الْأَوَّلُ: أَحْوَالُ الْإِسْنَادِ الْخَبَرِيِّ

Bab pertama tentang keadaan isnād khabarī:

1. Isnād, ialah:

ضَمُّ كَلِمَةٍ أَوْ مَا يَجْرِيْ مَجْرَاهَا إِلَى أُخْرَى بِحَيْثُ يُفِيْدُ الْحُكْمِ بِأَنَّ مَفْهُوْمَ إِحْدَاهُمَا
ثَابِتٌ لِمَفْهُوْمِ الْأُخْرَى أَوْ مَنْفِيٌّ عَنْهَا.

Artinya:

“Menghimpun kalimat atau lafaz yang sejalan dengan kalimat itu (jumlah
khabariyah atau mashdariyah) dengan kalimat lain sekira memberi faedah
akan adanya hukum dengan cara, bahwa mafhum salah satu dari kedua
kalimat yang dihimpun itu, tetap bagi maksud kalimat lainnya, seperti
tetap hukum benarnya Zaid pada lafazh (زَيْدٌ كَاذِبٌكَذَبَ زَيْدٌ) atau tiadanya
hukum itu dari padanya, seperti tiada hukum benarnya Zaid pada lafazh:
(زَيْدٌ لَمْ يَكْذِبْلَمْ يَكْذِبْ زَيْدٌ).

2. Khabarī, merupakan nisbat dari lafazh khabar, ialah:

(مَا احْتَمَلَ الصِّدْقَ وَ الْكَذِبَ) Yaitu: Perkataan yang mungkin benar dan mungkin salah.


 Tentang Isnad Ilaih- Jauhar-ul-Maknun

Dari Buku:
Terjemah Jauhar-ul-Maknūn
(Ilmu Balaghah)
Oleh: Abdurrahman al-Ahdori
Alih Bahasa: Achmad Sunarto
Penerbit: MUTIARA ILMU – Surabaya

PASAL 4

فَصْلٌ فِي الْإِسْنَادِ الْعَقْلِيِّ

TENTANG ISNĀD AQLĪ

Isnād itu terbagi dua:

 1. Isnād Khabarī,
 2. Isnād Insyā’ī.

Dan terbagi pula kepada:

 1. Ḥaqīqat ‘aqliyyah dan
 2. Majāz ‘aqlī.

Ḥaqīqat ‘aqliyyah: ialah meng-isnād-kan fi‘il atau serupa fi‘il
(mashdar, isim fi‘il, isim maf‘ūl, shifat musyabbahāt, isim tafdhīl
danzharaf) kepada ma‘mūl-nya menurut kehendak mutakallim.
Seperti: (ضُرِبَ زَيْدٌ، ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا).

وَ لِحَقِيْقَةٍ مَجَازٍ وَرَدَا                              لِلْعَقْلِ مَنْسُوْبَيْنِ أَمَّا الْمُبْتَدَا

إِسْنَادُ فِعْلٍ أَوْ مُضَاهِيْهٍ إِلَى                      صَاحِبِهِ كَفَازَ مَنْ تَبَتَّلَا.

Artinya:

“Isnād ‘aqli itu datang ada kalanya ḥaqīqat ‘aqliyyah dan ada kalanya
majāz ‘aqli. Adapun yang pertama, yaitu meng-isnād-kan fi‘il atau serupa
fi‘il kepada ma‘mūl-nya, seperti: (فَازَ مَنْ تَبَتَّلَا)= Berbahagia
orang yang memutuskan hubungan hatinya dengan makhluk. Yang berbahagia,
ialah tabattul.”

Adapun ḥaqīqat ‘aqliyyah itu menurut bukti dan i‘tiqād-nya, terbagi
empat macam, yaitu:

 1. Yang sesuai bukti dan i‘tiqād-nya, seperti kata seorang mu’min:
    (أَنْبَتَ اللهُ الْبَقَلَ).
 2. Yang sesuai hanya dengan i‘tiqād-nya saja, tidak sesuai dengan
    buktinya, seperti kata orang kafir: (أَنْبَتَ الرَّبِيْعُ الْبَقَلَ).
 3. Yang sesuai dengan buktinya saja, tidak sesuai dengan i‘tiqād-nya,
    seperti kata orang mu‘tazilah: (خَلَقَ اللهُ الْأَفْعَالَ كُلَّهَا) = Allah yang
    menjadikan seluruh pekerjaan.

Padahal i‘tiqād mu‘tazilah itu bahwa cincin pada jari digerakakannya
oleh jari itu, bukan oleh Allah.

 4. Yang tidak sesuai dengan bukti dan i‘tiqād-nya, seperti: (قَامَ
    مُحَمَّدٌ) = telah berdiri Muḥammad. Padahal kamu tahu bahwa Muḥammad itu
    belum berdiri.

Dan perlu diketahui, bahwa ḥaqīqat ‘aqliyyah itu bila dilihat dari
kedua ujungnya, yaitu musnad dan musnad ilaih juga terbagi atas
empat macam yaitu:

 1. Kedua-duanya berarti ḥaqīqat lughawī, seperti:خَلَقَ اللهُ السَّموَاتِ وَ الْأَرْضَ

 2. Kedua-duanya berarti majāz, seperti (أَحْيَا الْبَحْرُ زَيْدًا) = (telah
    memberi orang yang berderma kepada Zaid), dengan menggunakan majāz
    isti‘ārah sebagaimana yang akan diterangkan berikut in sya’ Allah.

Lafaz (أَحْيَا) dengan arti (أَعْطَى). Lafaz (الْبَحْرُ) dengan arti (الْكَرِيْمُ).

 3. Musnad ilaih dengan arti ḥaqīqat, sedangkan musnad dengan arti
    majāz, seperti: (أَحْيَا الْإِلهُ الْبَقَلَ)

Lafaz (أَحْيَا) dengan arti (أَنْبَتَ).

 4. Musnad ilaih dengan arti majāz, musnad dengan arti ḥaqīqat
    seperti:

(مَاتَ زَيْدٌ وَ أَنْتَ تُرِيْدُ أَبَاهُ) = Telah mati Zaid.

Padahal muksudmu bapaknya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  kasalametannana turuna ka atas panutan urang Kangjeng Nabi Muhammad Shalallohu ‘alaihi wassalam, jeung ka para sahabatna rawuh kulawargana...